Apa yang paling parah dari film Hollywood? Tentu saja kebohongannya
tentang Amerika. Dari aksi heroik Rambo yang sendirian mampu menghabisi
satu pasukan tempur tanpa lecet, sampai kemenangan naif Amerika di
setiap film-film perangnya, termasuk perang Vietnam yang nyata-nyata
membuktikan kekalahan telak mereka hampir dalam setiap pertempuran.
Belakangan, tak hanya film yang membuat masyarkat dunia sadar telah dininabobokkan oleh kebohongan Amerika. Media dan jurnalisme di sana -yang ironisnya seringkali menjadi kiblat kebebasan media- (termasuk di Indonesia) tenyata tak lebih sebagai aktor pembohong nomor satu di dunia. Contohnya pada kasus Invasi Irak. Investigasi resmi internasional menyimpulkan, Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.
Banyak fakta penting lainnya yang tidak pernah diberitakan CNN, Fox News, ABC, CNBC, atau BBC. Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media tersebut juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebutlah fakta-fakta berikut ini:
Belakangan, tak hanya film yang membuat masyarkat dunia sadar telah dininabobokkan oleh kebohongan Amerika. Media dan jurnalisme di sana -yang ironisnya seringkali menjadi kiblat kebebasan media- (termasuk di Indonesia) tenyata tak lebih sebagai aktor pembohong nomor satu di dunia. Contohnya pada kasus Invasi Irak. Investigasi resmi internasional menyimpulkan, Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, dengan bantuan media korporat Amerika, Bush membohongi publik agar percaya pada kabar bohong tersebut dengan maksud untuk meraih dukungan dan legalitas atas invasi ke Irak.
Banyak fakta penting lainnya yang tidak pernah diberitakan CNN, Fox News, ABC, CNBC, atau BBC. Lebih parah lagi, berita-berita yang berasal dari media tersebut juga diputar ulang oleh media televisi lokal negara-negara lain, termasuk Indonesia. Sebutlah fakta-fakta berikut ini:
- PNAC (Project for a New American Century) menguasai pemerintah Amerika. Mereka memiliki banyak motif yang membuka pintu bagi terjadinya serangan 9/11.
- Tentara AS tertawa sambil menari-nari mengelilingi tubuh warga sipil Irak yang tewas bersimbah darah.
- AS menahan bocah 11 tahun di penjara Abu Ghraib. Mantan komandan AS mengatakan berdasarkan investigasi umum, terjadi penganiayaan di penjara itu.
- Para polisi Inggris yang beroperasi di Basrah menyiksa setidaknya dua orang warga sipil hingga mati dengan menggunakan bor listrik.
- AS mengambil keuntungan dari merebaknya perdagangan opium di Afghanistan.
- Seorang tahanan di Guantanamo pada bulan April 2003 melaporkan kepada FBI bahwa ia dipaksa berdiri telanjang di hadapan seorang interogator wanita.
- Virus HIV AIDS itu asal mulanya bukan dari simpanse, tapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu.
- Fluorida yang terkandung dalam pasta gigi untuk jangka panjang membahayakan kesehatan. Tapi, selama 50 tahun lebih, pemerintah dan media AS menganjurkan fluorida sebagai sarana yang aman dan efektif untuk mencegah gigi berlubang.
- Senjata pemusnah massal milik AS, seperti tabung uranium, jarang sekali disebutkan media Amerika, tak terkecuali dampak jangka panjangnya.
Apakah fakta-fakta tersebut diberitakan media Amerika? Jawabnya tentu
saja tidak pernah. Lalu apa yang ditampilkan media di sana? Tak
ayal,mereka hanya sibuk melaporkan berita-berita yang mengharumkan nama
pemerintah AS sementara kebenaran yang barangkali akan mengotori citra
itu disingkirkan. Apakah ini yang disebut jurnalisme? Tentu saja bukan.
Ini hanyalah manipulasi citra dan pikiran.
Bagaimana tentang Indonesia? Serangkaian aksi pengeboman di Indonesia tampaknya lebih merupakan kampanye terselubung intelijen Barat dan media untuk memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara teroris. Mereka mengobarkan kemarahan kelompok-kelompok muslim lokal dengan menyebarkan fitnah dan membuat istilah-istilah: Islam Garis keras, Islam Radikal, Islam Puritan, dan sebagainya.
Lewat riset pribadi yang mendalam dan meyakinkan, Jerry D. Gray menemukan banyak fakta mengenai media televisi korporat (terutama di Amerika Serikat). Peristiwa-peristiwa dunia yang kerap kita saksikan lewat berita televisi telah dipelintir, dimanipulasi dengan kebohongan, bahkan tipuan. Media korporat Amerika telah mengalami pergeseran dari sarana yang melaporkan berita aktual menjadi mesin propaganda yang setia mendukung presiden dan pemerintah AS, terlepas kebijakan presiden tersebut keliru maupun benar.
Dalam buku ini, Gray misalnya memaparkan kebobrokan media Amerika yang berprestasi menyelamatkan George W. Bush sehingga lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.
Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaeda. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang. Maka terjadilah perang itu.
Dua tahun kemudian, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.
Bagaimana tentang Indonesia? Serangkaian aksi pengeboman di Indonesia tampaknya lebih merupakan kampanye terselubung intelijen Barat dan media untuk memberi kesan bahwa Indonesia adalah negara teroris. Mereka mengobarkan kemarahan kelompok-kelompok muslim lokal dengan menyebarkan fitnah dan membuat istilah-istilah: Islam Garis keras, Islam Radikal, Islam Puritan, dan sebagainya.
Lewat riset pribadi yang mendalam dan meyakinkan, Jerry D. Gray menemukan banyak fakta mengenai media televisi korporat (terutama di Amerika Serikat). Peristiwa-peristiwa dunia yang kerap kita saksikan lewat berita televisi telah dipelintir, dimanipulasi dengan kebohongan, bahkan tipuan. Media korporat Amerika telah mengalami pergeseran dari sarana yang melaporkan berita aktual menjadi mesin propaganda yang setia mendukung presiden dan pemerintah AS, terlepas kebijakan presiden tersebut keliru maupun benar.
Dalam buku ini, Gray misalnya memaparkan kebobrokan media Amerika yang berprestasi menyelamatkan George W. Bush sehingga lepas dari pelanggaran serius atas undang-undang dan hukum internasional. Tidak pernah ada satu pun investigasi serius yang dilakukan untuk menangani perilaku Bush yang tak kenal hukum walaupun sudah banyak bukti yang memberatkannya.
Sebelum invasi ke Irak, pemerintahan Bush mengklaim bahwa Muhammad Atta (terdakwa pimpinan serangan 11 September) bertemu dengan pejabat intelijen Irak di Praha. Pertemuan itu diduga sebagai bukti adanya kaitan antara Saddam dengan Al-Qaeda. Walaupun presiden Ceko menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar, pejabat pemerintahan Bush tetap bersikeras menjadikan pertemuan tersebut sebagai alasan untuk melancarkan perang. Maka terjadilah perang itu.
Dua tahun kemudian, lebih dari 1.700 pasukan sekutu gugur, puluhan ribu luka-luka. Sementara itu, di pihak Irak terjadi kematian hampir 100 jiwa tiap minggunya. Meski tak ada data resmi, diperkirakan puluhan ribu jiwa telah menjadi korban dan media berita tetap bungkam.
Selain tidak memberikan laporan akurat mengenai jumlah korban, media
Amerika juga tidak pernah menginformasikan tentang kerusakan alam,
properti serta penderitaan rakyat Irak. Mereka hanya mempublikasikan
“kejayaan” serdadu Amerika sambil membiarkan nasib penduduk sipil yang
terbunuh hampir setiap harinya. Kebanyakan warga Amerika hidup dalam
ilusi bahwa perang tidak banyak menimbulkan pertumpahan darah dan
kerusakan. Perang di mata media AS adalah perjuangan menegakkan
demokrasi. Mereka agak sulit menyadari bahwa senjata penghancur, bom,
rudal, dan tomahawk mereka telah merenggut jutaan nyawa manusia. Kondisi
yang bahkan sangat jauh dari prinsip HAM dan demokrasi–yang konon
dijunjung tinggi negara Amerika .
Lewat fakta-fakta meyakinkan yang disajikan buku ini, pembaca diajak menelusuri betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran masyarakat melalui “berita” yang yang mereka sajikan. Buku yang di Indonesia diterbitkan dan diterjemahkan oleh UFUK Press ini sangat layak dibaca oleh siap saja, khususnya pemerhati media. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang mengurangi kenyamanan membaca buku ini. Pertama, seperti saya jumpai di beberapa buku UFUK yang lain, spasi dan font yang digunakan terlalu besar dan renggang sehingga mengesankan “asal tebal”. Barangkali strategi ini menjadi cara penerbit memaksimalkan keuntungan. Kedua, buku yang ditulis Gray ini seolah terlalu bersemangat dalam penyajian data-data sehingga sistematika dan elaborasi analisisnya kurang runut dan mendalam. Ketiga, menjadi agak aneh dan terkesan asal comot ketika bagian terakhir buku ini secara utuh memasukkan prinsip 9 elemen jurnalisme dari Kovach dan Rosenstiel sebagai parameter menilai etika media. Ironisnya tanpa menyebutkan sumbernya. Pertanyannnya, apakah ini tambahan dari editor atau versi penulis aslinya? Seharusnya bahasan etika tersebut bisa diintegrasikan lebih smooth.
Lewat fakta-fakta meyakinkan yang disajikan buku ini, pembaca diajak menelusuri betapa hebatnya media Amerika memanipulasi pikiran masyarakat melalui “berita” yang yang mereka sajikan. Buku yang di Indonesia diterbitkan dan diterjemahkan oleh UFUK Press ini sangat layak dibaca oleh siap saja, khususnya pemerhati media. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang mengurangi kenyamanan membaca buku ini. Pertama, seperti saya jumpai di beberapa buku UFUK yang lain, spasi dan font yang digunakan terlalu besar dan renggang sehingga mengesankan “asal tebal”. Barangkali strategi ini menjadi cara penerbit memaksimalkan keuntungan. Kedua, buku yang ditulis Gray ini seolah terlalu bersemangat dalam penyajian data-data sehingga sistematika dan elaborasi analisisnya kurang runut dan mendalam. Ketiga, menjadi agak aneh dan terkesan asal comot ketika bagian terakhir buku ini secara utuh memasukkan prinsip 9 elemen jurnalisme dari Kovach dan Rosenstiel sebagai parameter menilai etika media. Ironisnya tanpa menyebutkan sumbernya. Pertanyannnya, apakah ini tambahan dari editor atau versi penulis aslinya? Seharusnya bahasan etika tersebut bisa diintegrasikan lebih smooth.

Media Amerika, Separah Itukah?
Di luar buku Gray, para wartawan maupun akademisi bidang jurnalistik
rata-rata berkomentar buruk tentang media massa di Amerika Serikat (AS).
”Pers Amerika sedang menghadapi krisis kepercayaan dari masyarakatnya, ”
tutur Tom Baxter, redaktur di The Atlanta Journal-Constitution. Hal
serupa juga diungkapkan wartawan dari Associated Press, Chicago Tribune,
San Francisco Chronicle, The Sacramento Bee, Chicago Sun-Times, Athens
Banner Herald, Sacramento News & Review, dan The Washington Times
(Masha, 2006).
Hal itu juga diakui Robert Dietz dari Committe to Protect Journalists. Bahkan ia menyebut jaringan televisi kabel CNN sebagai pabrik berita. Nada paling minor ditujukan ke jaringan televisi Fox milik Rupert Murdoch. Namun mereka mengakui, dari semua ragam media, media cetak paling bisa dipercaya.
Mengapa krisis ini bisa terjadi? Barangkali ungkapan paling lugas dikemukakan Robert W McChesney. Melalui bukunya yang berjudul The Problem of the Media: US Communication Politics in the Twenty-First Century, ia menilai bahwa pers AS memasuki fase the age of hyper commercialism sehingga jurnalisme sedang berada pada situasi krisis yang luar biasa. Berita telah menjadi komoditas dan profesionalisme wartawan berhadapan dengan kontrol perusahaan. Tentu saja hal itu karena perusahaan selalu melihat sisi keuntungan bisnis, sedangkan pers selalu melihat dari sisi kepentingan publik. Padahal, saat ini, 75 persen pendapatan perusahaan diraup dari iklan. Pers memang dalam dilema.
James T Hamilton, dalam bukunya yang berjudul All the News That’s Fit to Sell: How the Market Transforms Information into News (Semua Berita yang Layak Jual: Peran Pasar dalam Mengubah Informasi Menjadi Berita), menegaskan peran bisnis dalam jurnalistik. Judul buku itu sendiri menyindir motto The New York Times, yaitu All the News That’s Fit to Print (Semua Berita yang Layak Cetak).
Hal itu makin menegaskan tekanan kepentingan bisnis dalam pemberitaan. Karena itu Hamilton mengajukan pertanyaan, siapa sebenarnya yang membunuh berita? Melalui riset yang tekun dengan menyajikan isi koran-koran di AS sejak dulu hingga kini, ia menggambarkan perjalanan pers AS yang dari waktu ke waktu memuat berita yang sesuai tuntutan pasar. Pada akhirnya pasar yang membuat agenda setting media massa.
Jadi, masihkan kita percaya dengan media Amerika?
oleh : Iwan Awaluddin Yusuf, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.
Hal itu juga diakui Robert Dietz dari Committe to Protect Journalists. Bahkan ia menyebut jaringan televisi kabel CNN sebagai pabrik berita. Nada paling minor ditujukan ke jaringan televisi Fox milik Rupert Murdoch. Namun mereka mengakui, dari semua ragam media, media cetak paling bisa dipercaya.
Mengapa krisis ini bisa terjadi? Barangkali ungkapan paling lugas dikemukakan Robert W McChesney. Melalui bukunya yang berjudul The Problem of the Media: US Communication Politics in the Twenty-First Century, ia menilai bahwa pers AS memasuki fase the age of hyper commercialism sehingga jurnalisme sedang berada pada situasi krisis yang luar biasa. Berita telah menjadi komoditas dan profesionalisme wartawan berhadapan dengan kontrol perusahaan. Tentu saja hal itu karena perusahaan selalu melihat sisi keuntungan bisnis, sedangkan pers selalu melihat dari sisi kepentingan publik. Padahal, saat ini, 75 persen pendapatan perusahaan diraup dari iklan. Pers memang dalam dilema.
James T Hamilton, dalam bukunya yang berjudul All the News That’s Fit to Sell: How the Market Transforms Information into News (Semua Berita yang Layak Jual: Peran Pasar dalam Mengubah Informasi Menjadi Berita), menegaskan peran bisnis dalam jurnalistik. Judul buku itu sendiri menyindir motto The New York Times, yaitu All the News That’s Fit to Print (Semua Berita yang Layak Cetak).
Hal itu makin menegaskan tekanan kepentingan bisnis dalam pemberitaan. Karena itu Hamilton mengajukan pertanyaan, siapa sebenarnya yang membunuh berita? Melalui riset yang tekun dengan menyajikan isi koran-koran di AS sejak dulu hingga kini, ia menggambarkan perjalanan pers AS yang dari waktu ke waktu memuat berita yang sesuai tuntutan pasar. Pada akhirnya pasar yang membuat agenda setting media massa.
Jadi, masihkan kita percaya dengan media Amerika?
oleh : Iwan Awaluddin Yusuf, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, peneliti di Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP) dan Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2MEDIA)Yogyakarta.
0
komentar
10. Absinth

Merupakan
hasil fermentasi dari tumbuhan yang diberi nama Artemisia
absinthium,kadar alkoholnya konon sampe 74%,daerah pemasaran dan
penjualan minuman ini rata-rata di negara eropa,mulai prancis, rep ceko,
swiss hingga spanyol..
9. Jager
Komposisinya
dari alkohol, gula tebu, gula beet,j amu dan rempah-rempah. berbeda
dengan komposisinya, minuman ini konon mempunyai rasa yang manis. daerah
pemasaran minuman ini selain di jerman juga dipasarkan di denmark,
hungaria, dan republik ceko...
Manusia
sudah bikin minuman ini sejak 5000 tauhn yang lalu..komposisinya
fermentasi anggur yang mempunyai kadar alkohol antara 8% - 15%. daerah
pemasaranny ahampir meliputi seluruh dunia, sedangkan daerah produksi
wine yg paling terkenal antara lain Perancis, Italia, Spanyol, Amerika
Serikat, Argentina, Jerman, Australia, Afrika Selatan, Portugal, dan
Chili...
Merupakan
jenis koktail dgn rasa manis yang mempunyai komposisi vodka,liquer
kopi (biasanya Kahlua atau Tia Maria), dan juga krim...
Tequila
yang paling umum berbasis koktail, dibuat dengan campuran tequila
dengan triple sec dan jeruk nipis atau jus lemon, seringkali disajikan
dengan garam di bibir gelas..
Merupakan
minuman hasil distilasi (penyulingan) yang terbuat dari tanaman agave.
dinamain tequila karena inilah daerah penghasil tequila,yang terletak
65 kilometer barat laut Guadalajara, Meksiko. biasanya disajiin pakai
garam dan jeruk nipis.
Campuran
vodka dan orange juice. vodkanya sendiri merupakan salah satu minuman
beralkohol dengan kadar yang cukup tinggi,yaitu sekitar 40%,yang dbuat
dari fermentasi gandum yang disuling..
Campuran
dari rum dan coke. rum merupakan minuman beralkohol hasil fermentasi
dan distilasi dari molase (tetes tebu) atau air tebu yang merupakan
produk samping industri gula. Rum hasil distilasi berupa cairan berwarna
bening, dan biasanya disimpan untuk mengalami pematangan di dalam tong
yang dibuat dari kayu ek atau kayu jenis lainnya. Produsen rum
terbesar di dunia adalah negara-negara Karibia dan sepanjang aliran
Sungai Demerara di Guyana, Amerika Selatan. Selain itu, pabrik rum ada
di negara-negara lain di dunia seperti Australia, India, Kepulauan
Reunion. Rum terdiri dari berbagai jenis dengan kadar alkohol yang
berbeda-beda. Rum putih umum digunakan sebagai pencampur koktail. Rum
berwarna cokelat keemasan dan gelap dipakai untuk memasak, membuat kue,
dan juga pencampur koktail. Hanya rum berkualitas tinggi saja yang
biasa diminum polos tanpa pencampur atau ditambah es batu (on the
rocks).
Merupakan
segala minuman beralkohol yang diproduksi melalui proses fermentasi
bahan berpati dan tidak melalui proses penyulingan setelah fermentasi.
Proses pembuatan bir disebut brewing. Karena bahan yang digunakan untuk
membuat bir berbeda antara satu tempat dan yang lain, maka
karakteristik bir seperti rasa dan warna juga sangat berbeda baik jenis
maupun klasifikasinya. Salah satu minuman tertua yang dibuat manusia,
yaitu sejak sekitar tahun 5000 SM yang tercatat di sejarah tertulis
Mesir Kuno dan Mesopotamia. Walaupun secara umum bir merupakan minuman
beralkohol, ada beberapa variasi dari dunia Barat yang dalam
pengolahannya membuang hampir seluruh kadar alkoholnya, menjadikan apa
yang disebut dengan bir tanpa alkohol.
Conficker masih menduduki peringkat teratas, diikuti Recycler yang
kembali masuk dalam chart dan langsung melejit ke urutan tiga besar,
lalu diikuti oleh Autoit. Selengkapnya, silakan lihat daftar berikut
ini:
1. Conficker
1. Conficker
Virus luar berteknologi canggih ini memang menyebar luar biasa.
Bentuknya yang merupakan file DLL (Dynamic Link Library) membedakannya
dengan kebanyakan virus lain yang berupa EXE. Kemampuan yang dimilikinya
juga bisa disetarakan dengan rootkit. Serta, sifatnya ber-polymorphic
membuatnya memiliki tubuh yang berubah-ubah. Pada komputer terinfeksi,
user tidak akan dapat membuka situs yang “berbau” antivirius atau
Microsoft update. Virus ini juga aktif menyebar di Indonesia dengan
menggunakan media removable disk misalkan flash disk. Pada flash disk
terinfeksi, Anda akan menemukan file autorun.inf dan direktori RECYCLER
yang di dalamnya terdapat sub-direktori dengan nama misalkan
S-5-3-42-2819952290-8240758988-879315005-3665, dan pada direktori inilah
terdapat file virus Conficker dengan nama biasanya jwgkvsq.vmx yang
sebenarnya adalah file DLL.
2. Recycler
Seperti pendahulunya, yang menjadi ciri khas dari virus ini adalah
teknik bagaimana ia menyebar. Yakni “ngumpet” dalam direktori
Recycler/Recycler/Recycle Bin. Ia juga diketahui menerapkan teknik code
injection agar kode virus bisa “nyangkut” pada explorer.exe. Ini
dilakukannya untuk mempersulit user maupun program antivirus sekalipun
untuk membunuhnya.
3. Autoit
Hampir kebanyakan varian dari virus import berbasis script ini
menggunakan icon mirip seperti folder. Virus ini memiliki kemampuan
untuk melakukan auto update ke beberapa situs. Ia juga dapat
memanfaatkan Yahoo! Messenger sebagai media perantara penyebarannya
dengan mengirimkan pesan berisi link ke setiap contact person yang ada
di Y!M korban.
4. Smansa

Virus yang dibuat dengan VB ini bila dilihat pada Explorer dengan mode
tampilan Details, ia akan nampak seperti aplikasi standar yang tanpa
icon, namun apablia dilihat dengan mode Icons, ia akan nampak sebagai
sebuah folder. Virus yang di-pack menggunakan UPX ini, saat menginfeksi
akan menciptakan file dengan nama Paket.exe dan Autorun.inf di setiap
root drive yang ia temukan. File tersebut diberi attribut hidden agar
tidak terlihat dengan setingan standar Explorer. Selain itu, pada drive
flash disk terinfeksi juga akan ditemukan sebuah file pesan dengan nama
Kenang-kenangan.html yang berisi pesan dari si pembuat virus.
5. GhostyNet
Virus yang diyakini bukan produk lokal ini pada saat dijalankan akan
muncul pesan palsu atau “fake error” yang bertuliskan “Memory access
violation at 0×000000EF base address 0×000000F0.” yang seolah-olah
program tersebut crash padahal virus telah bersemayam di memory. Ia
menciptakan dua item Run baru di registry dengan nama avpupdt dan
ctfmon. File induk virus ini bersemayam di direktori
C:\WINDOWS\system32\1920622684. Pada root drive sistem operasi berada,
akan ada file dengan nama index.html yang merupakan pesan virus.
6. Viettel
Virus yang satu ini akan menguras resources komputer korban sehingga
terasa sangat lambat. Ia menggunakan icon mirip folder dalam
penyebarannya. Diduga keras ia berasal dari Vietnam. Ia akan menciptakan
file induk di direktori Windows dengan nama userinit.exe dan di
System32 dengan nama system.exe. Pada komputer terinfeksi akan terdapat
file dengan nama kdcoms.dll di direktori Windows.
7. HellSpawn
Virus bericon folder ini dibuat dengan dengan bahasa C++. Nama file
induknya mengikuti nama process/services milik Windows seperti
service.exe, winlogon.exe, lsass.exe, dan smss.exe. Terdapat juga nama
lain yang diduga random. Dalam tubuhnya terdapat database aplikasi yang
dilarang untuk dijalankan. Apabila aplikasi yang masuk dalam daftar
blacklist tersebut dijalankan, maka akan langsung di-kill.
8. MoneyMy
Virus ini menggunakan icon yang mirip seperti sebuah file instalasi dari
Game House, sebuah perusahaan pembuat game. Saat file virus di-klik
akan menampilkan pesan kesalahan palsu atau fake error. Virus ini akan
menciptakan file induknya pada direktori System32 dengan nama
debuger.exe.
9. Autoit-Hubbun
Virus lokal yang ingin mengikuti jejak Autoit, karena menggunakan
aplikasi scripting Autoit dalam pembuatannya. Ia menggunakan icon folder
dalam penyebarannya. File induknya berada pada direktori
\Windows\System32\wbem\services.exe. Virus ini juga menciptakan file
hubbun.txt yang berisi pesan dari si pembuat. Ia masih banyak memiliki
bug, terlihat dalam aksinya beberapa kali menampilkan kesalahan pada
script.
10. Merlin.bat
Salah satu contoh virus sederhana yang hanya dibuat menggunakan file
batch (.BAT). Ia akan mengkopikan dirinya pada System32 dengan nama
dirsystem.cmd. Lalu mencoba membuat task baru pada Schedule Tasks
Windows dengan nama VTTimer yang akan menjalankan file virus tersebut
pada rentan waktu yang telah ditentukan. Dalam aksinya ia akan mencoba
menyebarkan diri ke setiap drive dengan menciptakan file autorun.inf dan
dirsystem.cmd pada drive yang ia temukan. Cara termudah untuk
mengetahui apakah komputer terinfeksi virus ini adalah dengan melihat
Registered Information Windows, karena diketahui virus ini dapat
mengubahnya menjadi “Merlin” dan “GINGO”
CUAP CUAP
BERLANGGANAN ARTIKEL
DAPATKAN ARTIKEL SECARA GRATIS LANGSUNG KE EMAIL ANDA. MASUKKAN EMAIL ANDA PADA FORM DIBAWAH INI







