Merupakan suatu anugerah yang tak terhingga jika insan wartawan tanah air diganjar seorang Adinegoro. Apabila di kalangan dunia jurnalistik nusantara ada berbagai bintang, maka Djamaluddin Adinegoro adalah bintang yang paling bersinar. Beliau merupakan pelopor kaum jurnalistik Indonesia yang belajar dan memahami ilmu kewartawanan langsung dari sumbernya (Jerman).

Di era kolonisasi Belanda, masihlah langka dan jarang sekali jumlah insan press yang berani menuntut ilmu jurnalistik secara formal, mengingat pada tahun 25-an di nusantara?yang masih menjadi tanah jajahan Belanda?masih belum ada sekolah sejenis yang sepadan. Pemerintah Belanda mendirikan sekolah untuk kaum peribumi dalam bayang-bayang Tri?Tunggal Politik Etis, peningkatan intelektual hanya diperuntukkan agar mereka?kaum penjajah?mendapatkan tenaga-tenaga murah, trampil dengan sedikit pengetahuan bisa mampu untuk mengelola bersama tanah jajahan. Namun perkembangan pula yang mendorong putar-putri bangsa untuk berlomba-lomba dan maju dalam mengenyam ilmu pengetahuan setingi-tinginya.

Dari tahun ke tahun, semakin banyak mahasiswa tanah air yang mengenyam pendidikan barat?Belanda, dengan menelurkan Husein Djajadiningrat sebagai Doktor pertama Indonesia yang mampu mempertahankan disertasinya mengenai Sejarah Banten.

Jasa dan sumbangan Adinegoro bagi nusantara tidaklah sedikit. Lebih dari setengah hidup Adinegoro didarmabaktikan untuk keperluan jurnalistik. Di samping itu, beliau juga banyak menggeluti diri dalam bidang pemetaan, suatu bidang yang sangat langka ditekuni oleh orang Indonesia. Adinegoro bukanlah seorang orator, tokoh yang pandai membakar semangat bangsa dengan lihainya berpidato, atau mampu mempengaruhi massa dengan suara yang menggelegar, seperti saudaranya Muhamad Yamin.

Namanya juga tidak pernah tersiar sebagai seorang politikus yang mahir bersilat lidah dalam memertahankan pendirian. Beliau lebih dikenal sebagai wartawan, pengarang, ahli pikir yang cemerlang, ahli pembuat laporan perjalanan, tukang menganalisa politik luar dan dalam negeri, dan tulisannya mampu mendapatkan perhatian sendiri di hati pembacanya. Tidak sedikit kaum muda di sekitar tahun 30-an yang secara diam-diam mengagumi serta meneladani dan mengikuti jejak langkah Djamaluddin dan akhirnya mampu duduk di kursi penting kalangan jagat wartawan Indonesia.

Adinegoro lahir pada 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya adalah seorang Resident di Indrapura maka beliau berhak masuk ke ELS (1911) kemudian HIS dan atas dorongan keluarga Adinegoro dikirim ke Jawa (Batavia) untuk masuk ke STOVIA. 1926, Adinegoro pergi melawat ke barat. Selama empat tahun beliau menimba ilmu, bekerja serabutan dan meninjau berbagai kawasan di Eropa?Prancis, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa daerah Balkan?, setelah memikirkan dengan matang tindakannya tersebut padahal tinggal dua tahun gelar doternya untuk diselesaikan.

Setelah kembali ke tanah air, 1931 Adinegoro bekerja di harian Panji Pustaka (Jakarta) kemudian pindah ke Pustaka Deli (Medan). Pada masa pendududkan Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra Shimbun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Di waktu yang bersamaan, Adinegoro jatuh sakit. Karena berbagai pertimbangan akhirnya beliau beserta keluarga memutuskan pindah ke Jakarta.

Adinegoro juga diberi kesempatan meliput KMB, Den Hag, 1949. Dan beliau juga berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang berseteru?Indonesia dan Belanda?dengan saling pengertian melalui buku. 1951 Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 beliau berhasil menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia. Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963).

Nah, pada masa inilah Adinegoro mulai mengalami masa-masa kemunduran. Namanya mulai tenggelam. Dalam posisinya, Adinegoro tidak pernah dihargai oleh dewan pimpinan Antara. Adinegoro yang selalu menduduki posisi pertama di Perwata Deli, Sumotra Shimbun, Mimbar Indonesia, Kedaulatan Rakyat, tidak pernah diajak berembug untuk membantu memutuskan masalah. Adinegoro lebih banyak mencurahkan masalah hatinya pada sahabat dan juga anak didiknya, Hasrun Angkat Sutan.

Puncak rasa frustasi Adinegoro takala beliau tidak dimintai pendapat sebagai dewan penyeleksi, ketika pemimpin Antara hendak mengirim beberapa tenaga ahlinya ke barat. Astrid, salah satu putri Adinegoro sangat begitu terjerembab ketika melihat ayahnya hanya diberikan ruangan kecil dengan penerangan yang cukup, dan ditempatkan di bagian belakang kantor dekat kamar mandi dan mesin cetak.

Adinegoro yang melihat ulah putrinya marah besar dan memintanya pulang serta tidak menceritakan hal tersebut pada siapapun. Rasa frustasi berat dan tubuh yang telah dimakan usia, membuat Adinegoro jatuh sakit-sakitan. Tubuhnya tak lagi kuat seperti 30 tahun yang lalu, yang berani berpetualang hingga ke negeri Eropa. Dan pada 1967, Adinegoro sebagaimana Soebagijo I. N. menulis sebagai Pelopor Jurnalistik Indonesia menghembuskan nafas terakhirnya dalam umur yang relatif muda 63 tahun. Bukan rumah megah yang beliau tinggalkan. Bukan pula mobil mewah serta harta melimpah yang ia wariskan, namun keluarganya mendapatkan harta yang tidak ternilai berupa ribuan buku yang berisi aneka ragam ilmu dan ditulis dalam aneka ragam bahasa.

Buku filsafat, ilmu teosofi, ilmu publistik, kebudayaan, politik, kesussastraan, geologi, geografi dan lain-lainnya yang kesemuanya ditulis dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis dan terutama Jerman. Pemerintah tidak melupakan jasa-jasanya. Pada tahun 1974 beliau dianugerahi gelar Perintis Press Indonesia. Dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai badan tertinggi insan press nasional, menyediakan tanda penghargaan tertinggi bagi karya jurnalistik terbaik setiap tahunnya. Tanda penghargaan tersebut sangat berkaitan dengan Adinegoro yang memang sengaja disejajarkan dengan nama nestor jurnalis Indonesia itu. Ya benar, dalam tiap tahun, karya terbaik insan jurnalistik nasional yang terpilih, akan diganjar dengan Hadiah Adinegoro.



BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT LAINNYA DIBAWAH INI :



Poskan Komentar